Taman Cagar Alam Tangkoko

Posted by on Dec 03, 2010 | Leave a Comment

tangkokoBerlokasi sekitar 60 km dari Ibu Kota propinsi Sulawesi Utara, dan sekitar 20 km dari Kota Bitung, Cagar alam Batu Angus Tangkoko yang terletak di Kelurahan Batuputih Kecamatan Ranowulu merupakan Kawasan Wisata Alam (TWA) andalan Kota Bitung dan Sulawesi Utara.

Taman Cagar alam Tangkoko adalah kawasan konservasi di yang terletak di kawasan GunungTangkoko, Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Untuk mengunjungi taman ini akan memerlukan waktu sekitar 3 jam dari Manado dan sekitar 1 jam dari Kota Bitung dan akan melewati Taman Alam Batuputih terletak antara kecamatan Bawah Batuputih dan Taman Nasional Tangkoko itu sendiri di Batuangus.

Taman Alam Batuputih meliputi area seluas 615 hektar dan merupakan sarana cocok untuk berkemah, kegiatan outbound dan relaksasi oleh pantai. Karena taman Batuputih yang paling dikunjungi oleh wisatawan, dari empat kawasan konservasi di Tangkoko.

Selain Taman Batuputih, Tangkoko juga terdiri dari Tangkoko-Batuangus Taman Nasional dengan luas total 3.196 hektar – yang meliputi Gunung Tangkoko-Batuangus dan sekitarnya – yang merupakan Taman Nasional dengan luas total 4.299 hektar (meliputi Gunung Duasaudara dan sekitarnya), dan Batuangus Taman Nasional dengan 635 hektar (terletak di antara Taman Nasional Tangkoko dan Desa Pinangunian.

Kehidupan satwa liar di kawasan Tangkoko sudah diketahui secara luas dan dikunjungi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1861. Di Tangkoko, Wallace mengumpulkan spesimen babirusa dan maleo yang waktu itu sangat mudah dijumpai. Ketika itu, pasir hitam di pantai Tangkoko merupakan tempat bersarang dan penetasan telur maleo. Akibat eksploitasi oleh penduduk setempat, koloni maleo di pantai Tangkoko tidak lagi ditemukan pada tahun 1915, dan hanya tersisa sejumlah kecil koloni di pedalaman.
Kawasan Tangkoko pertama kali ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada tahun 1919 berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90, dan diperluas pada tahun 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78.
Pada 24 Desember 1981, Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus.Surat keputusan yang sama menetapkan kawasan seluas 615 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih sebagai Taman Wisata Batuputih, dan kawasan seluas 635 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian sebagai Taman Wisata Alam Batuangus

Kawasan ini memiliki topografi landai hingga berbukit yang terdiri dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan lumut. Di kawasan ini terdapat dua puncak gunung: Gunung Tangkoko (1.109 m) dan Gunung Dua Saudara (1.109 m), serta Gunung Batuangus (450 m) di bagian tenggara. Di sebelah timur laut terdapat Dataran Tinggi
Kawasan ini termasuk zona iklim B, dengan curah hujan sebesar 2.500-3.000 mm per tahun, suhu rata-rata antara 20 °C dan 25 °C. Musim kemarau berlangsung dari April hingga November, dan musim hujan dari November hingga April.

Di kawasan Taman Wisata Batu Putih terdapat tumbuhan pantai seperti ketapang, bitung, pandan, jati, dan mahang (Macaranga).Monyet hitam sulawesi (Macaca tongkeana), tarsius (Tarsius spectrum), kuskus (Ailurops ursinus), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), anoa, tupai (Tupaia sp), musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).
Pada tahun 1980 dicatat sejumlah 140 spesies burung, termasuk burung tahun (Rhythitceras cassidix) dan maleo (Macrocephalon maleo) yang endemik Sulawesi Spesies lain di antaranya pergam hijau (Ducula aenea), srigunting jambul-rambut (Dicrurus hottentottus), jalak tunggir-merah (Scissirostrum dubium), raja-udang pipi-ungu (Cittura cyanotis), udang merah sulawesi (Ceyx fallax), celepuk sulawesi (Otus manadensis), rangkok sulawesi (Penelopides exarhatus).

Jenis reptilia dan ular yang dijumpai adalah ular sanca kembang (Python reticulatus), kobra (Naja naja), ular anang (Ophiophagus hannah), Tropidolaemus wagleri, soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), biawak indicus (Varanus indicus), dan cicak terbang sayap merah (Draco sp.)Satwa laut di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys)

Tarsius di Tangkoko

Berbagai ilmuan yang datang dari berbagai belahan negara membuat Taman Cagar Alam Tangkoko telah dikenal luas di dunia,dengan tujuan untuk meneliti berbagai hayati. Salah satunya, monyet terkecil di dunia atau Tarsius.

Sharing is Caring:

Leave a comment